INDONESIA DI TENGAH PERADABAN POLITIK MODERN (Refleksi 76 Tahun Kemerdekaan Indonesia)




Oleh   :   Dorelagu Frans)*

Masa kecil ketika merayakan kemerdekaan Indonesia, terasa tidak hanya sekedar euforia tepi terbayang suatu cerita historis bahwa kemerdekaan yang  diraih adalah hasil perjuangan dengan darah dan nyawa. Maka ketika kemerdekaan sudah ada dalam genggaman makna kemerdekaan menjadi begitu penting bagi segenap para pejuang (pahlawan). Kita membayangkan berbagai narasi historis yang mengisahkan perjuangan para pahlawan. Pahit getir dan kesengsaraan dalam medan perjuangan untuk mempertahankan wilayah nusantara dari hasrat kolonialisme bangsa Portugis, Belanda, Inggris dan Jepang. 

Rentang waktu yang panjang dan berabad-abad ini mengisahkan peristiwa tiranis dan merampas hak-hak kebebasan manusia sebagai makhluk yang bermartabat. Nilai hakiki humanitas tertindas oleh keserakahan kaum imperialis yang berorientasi kepada semboyan Gold, Gospel and Glory (kekayaan, penyebaran agama dan kekuasaan). 

Dengan mendirikan perusahaan dibawah naungan kolonial, BEIC (British East Indies Company) milik Inggris dan VOC (Vereenigde Oost Indische Company) milik Belanda, maka kedua perusahan kolonial ini menjadi perusahaan imperialis yang merajai sistim perniagaan pada masa itu. Tidaklah heran VOC memainkan peran ganda sebagai simbol kekuasaan Pemerintah Nederland yang bersifat imperatif untuk meraup keuntungan sumber daya alam dan menjalankan peran penyebaran Kristianitas ke wilayah Nusantara atau lebih di kenal dengan Hindia Timur Jauh. 

Ini adalah historis awal bangsa yang subur dan makmur ini mengalami masa kolonial Eropa yang menyebabkan terpuruknya peradaban budaya dan harkat martabat manusia. Berabad-abad manusia nusantara hidup dalam cengkraman penjajah yang membawa kesengsaraan struktural dari generasi ke generasi. Ini masa-masa sulit bagi nenek moyang kita yang menjadi serpihan cerita dan memori historis untuk kita kenang sepanjang masa. Sebuah memori yang meletakan dasar perjuangan bagi generasi abad ini untuk berjuang mengisi kemerdekan bangsa Indonesia sesuai dengan masa dan peradaban budaya saat ini.

Peradaban politik Modern

Politik Indonesia adalah politik yang penuh dengan fenomena. Dalam sejarah politik Indonesia terus meciptakan perubahan demi perubahan menuju alam demokrasi yang lebih terbuka. Demokrasi yang terbuka cenderung ditandai dengan kebebasan dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Dari kebebasan cara pandang, cara berpikir, cara berperilaku, cara berpendapat dan bahkan cara bernegara. Semua kebebasan tersebut memiliki argumentasi politik praksis yaitu kita hidup dalam alam demokratisasi dan landasan konstitusi yang menaungi, akibatnya kita pun bertabiat bebas.

Dengan berpijak kepada landasan kebebasan demokrasi, secara tidak sadar kita sedang mengalami degradasi moral dan tertanggal dari esensi dasar kearifan budaya lokal kita. Kebebasan berdemokrasi (Demokrasi kebablasan) menyebabkan kita lupa akan hakikat nasionalisme kita. Kita lupa akan filosofi Bhineka tunggal Ika sebagai fondasi untuk menopang kekokohan NKRI. 

Problem sosial kenegaraan yang kita hadapi saat ini menyebabkan kita bersikap kritis terhadap berbagai persoalan sosial. Kita saling menuding, saling mempersalahkan dan bahkan terbentuk berbagai blok politik dan blok organisasi ideologis yang merong-rong Pancasila dan NKRI. Terbentuk organisasi separatis dimana-mana yang ingin memisahkan diri dan bahkan membubarkan NKRI. Kita tidak berharap demikian, seberat apapun situasi kebangsaan yang kita hadapi kita tetap bermimpi dan bertekat untuk mewujudkan persatuan Indonesia yang adil dan makmur.

Peradaban politik modern tidak mestinya membawa perubahan destruktif dan mengeliminir nilai universal dan berbagai kearifan nilai budaya kita, tepi sebagai sarana pencerahan politik humanis dalam era globalisasi dan era digitalisasi untuk mewujudkan Indonesia tangguh dan hebat. Peradaban politik modern dapat menjadi corak politik yang mengedepankan nilai humanitas dan sarana interaksi sosial dalam kehidupan sosial politik Negara Republik Indonesia. Kita berharap peradaban politik modern menjadi peradaban politik yang dinamis dan etis.

Refleksi 76 Tahun Kemerdekaan RI

Berbagai pendapat pragmatis beragam tentang makna kemerdekaan RI dalam masyarakat. Ada yang berkata; kemerdekan adalah hasil perjuangan bangsa Indonesia, hasil perjuangan para pahlawan bangsa, kemerdekaan harus diisi dengan pembangunan, kemerdekaan harus dipertahankan, kemerdekaan adalah anugerah. Ada juga yang mengatakan kita belum merdeka, kemerdekaan hanya untuk mereka yang kaya, kami kaum kecil (rakyat jelata) belum merdeka, ada juga yang tida perduli dengan kemerdekaan karena bagi mereka merdeka atau tidak sama saja hidupnya. 

Ini pendapat yang variatif masyarakat terhadap makna kemerdekaan RI yang perlu kita cermati dan refleksi secara bijak agar dapat menemukan jawaban memuaskan. Ragam pendapat diatas menjadi point refleksi dalam momen kemerdekaan kita. Selama 76 tahun kita hidup dalam alam kemerdekaan apakah kita sudah mengalami kemerdekaan dalam berbagai dimensi kehidupan, atau sebaliknya masih banyak kegagalan yang kita hadapi. Makna kemerdekaan adalah memberi harapan akan kemandirian hidup berbangsa dan bernegara. Tidak tergantung pada bangsa lain. Kemandirian dalam bidang ekonomi, politik, hukum dan keamanan, sosial budaya, pendidikan dll. 

Kesejahteraan masyarakat dalam hal pelayanan politik, kebutuhan ekonomi, pendidikan dan kesehatan. Ini merupakan kebutuhan fundamental masyarakat yang harus dipenuhi. Jangan bermental "centeng" pengisap darah rakyat, apalagi bermental penjajah kepada rakyatnya sendiri. Pendiri bangsa sudah jauh-jauh hari mengorbankan darah, jiwa dan raganya untuk kemerdekaan bangsa ini. Kita wajib bersyukur bahwa kita hidup di alam kemerdekaan dengan negara yang berdaulat. Kita wajib mengisi kemerdekaan bangsa ini dengan segala kemampuan. Menciptakan semangat nasionalisme yang kuat agar bangsa ini menjadi bangsa yang berdaya saing tinggi. Mari kita mengisi Hari ulang Tahun kemerdekaan Indonesia dengan tagar " Indonesia Tangguh Indonesia tumbuh"

#Salamsatuindonesia

Komentar